Minggu, 30 November 2014

Resep Mie Ayam Rumahan

Beberapa hari yang lalu teman saya meminta resep mie ayam. Bingung saya mau bagaimana menjawabnya. Tapi berhubung saya sudah janji akan memposting resep mie ayam, akan saya tepati janji saya. Tapi resep ini untuk rumahan ya. Dalam arti tidak untuk bisnis. Karena untuk lebih simple kita akan menggunakan mie kering. Karena akan sangat merepotkan kalau harus membuat mie basah seperti resep "Mie Ayam Grobag Idjo" milik keluarga saya :) Checkidot gaess :)

Bahan
*Mie kering (disarankan menggunakan mie kering yang sudah ada rasa asinnya, atau bisa      menggunakan mie instan merk apa saja).
*Daging ayam 1/2 kg (bagian dada).

Bumbu ayam yang dihaluskan
*6 siung bawang merah.
*3 siung bawang putih.
*1/2 sdt merica.
*1 sdt ketumbar.
*3 butir kemiri.

Bumbu ayam tambahan
*1 ruas lengkuas.
*Gula merah secukupnya.
*Garam secukupnya.
*Kecap manis secukupnya.

Bahan pelengkap
*Bawang merah goreng.
*Kecap asin (bisa diganti dengan garam halus).
*Kecap manis.
*Saos pedas atau saos tomat.
*Daun bawang.
*Mentimun untuk acar.

Cara memasak
*Rebus mie, tiriskan dan sisihkan.
*Filet ayam, potong dadu. Jika menyukai tulang ayam, tulangnya bisa ikut dimasak.
*Tumis lengkuas sampai harum. Masukkan semua bumbu halus sampai kering.
*Masukkan ayam dan tambahkan air.
*Masukkan garam, gula merah dan kecap manis. Tutup panci tunggu sampai matang.
*Sajikan mie dalam mangkok. Tambahkan daging ayam yang telah matang. Sajikan bersama semua  bahan pelengkap di atasnya.
*Mie ayam ala JN Kitchen siap dihidangkan :)




*Foto diambil dari koleksi pribadi.

Sabtu, 29 November 2014

Resep Brownies Kukus Amanda

Akhir-akhir ini banyak permintaan resep dari teman-teman. Berhubung saya sedang mood, satu persatu akan saya posting. Akan tetapi mohon maaf untuk slow respon dari saya atas permintaan resep dari kalian. Sebagai gantinya, doakan usaha dan rejeki saya lancar ya gaesss :) Aamiin :) Berikut resep brownies amanda permintaan dari Mbak Nia :)

Bahan
* 150 gram tepung terigu.
*340 gram dark cooking chocolate/coklat batang menurut selera
*150 gram margarin
*150 gram gula pasir
*4 butir telur
*1 sendok teh baking powder

Cara membuat
*Kocok telur dan gula hingga mengembang.
*Masukkan tepung dan baking powder yang sebelumnya sudah diayak.
*Tambahkan coklat batang dan margarine yang telah dicairkan.
*Tuang di loyang ukuran 20 cm.
*Adonan brownies siap dikukus -+20 menit.
*Setelah matang dan dingin, brownies bisa dihias dengan butter cream bertabur parutan coklat batang atau sesuai selera.

Kewajiban Seorang Istri Yang Sesungguhnya

Saya yakin setiap wanita yang berstatus "istri" atau pun yang akan "menjadi" istri pernah atau akan bertanya-tanya akan menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga. Kalau menurut pendapat pribadi saya, menjadi "ibu rumah tangga" bagi seorang istri itu adalah suatu keharusan. Pilihannya, seorang wanita juga bisa menjadi wanita karier.

Ibu rumah tangga dalam arti yang seperti apa? Dalam arti melakukan kewajiban. Kewajiban seperti apa? Menyapu, mengepel, memasak, mencuci baju, menyetrika, mendidik anak, mengurus anak? Bukan! Bukan hal seperti itu. Kewajiban seorang istri yang bersifat kodrati yaitu seperti mengandung dan melahirkan. Dan tidak ada kata "melayani" suami. Karena layaknya sebuah hubungan intim adalah keterlibatan dua orang suami istri. Dan tentunya bukan hal sepihak saja yang membutuhkannya.

Seperti dilansir WWW.TVSHIA.COM. Makalah dengan judul "Kewajiban Seorang Istri Yang Sebenarnya". Sebelum saya mengutip makalah itu, perlu saya sampaikan bahwa ini bukan tentang masalah gender, saya hanya ingin menyerukan dan membesarkan hati para "istri" bahwa mereka sungguh mulia. Mereka memiliki ladang pahala yang luas. Agar para istri tidak berkecil hati dengan status "istri"nya. Bagi para istri, saya menghimbau agar mendiskusikan makalah ini dengan suaminya. Atau untuk para calon istri, sebelum akad tiba, diskusikan makalah ini dengan calon suami kalian. Perlu anda tahu, makalah ini ditulis oleh seorang laki-laki. Bukan wanita. Berikut saya sampaikan makalah tersebut. Jangan berhenti membaca di tengeh jalan agar tidak terjadi kesalah pahaman.

Muqadimah
Sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk menganggap memasak, mendidik anak-anak, membersihkan rumah, dan melayani suami sebagai kerjaan istri. Istri yang tidak mau melakukan salah satu kerjaan tersebut dianggap istri yang tidak berkompeten dan tidak layak dianggap sebagai istri yang ideal. Suamipun terkadang tidak mau menerima kekurangan istri tersebut sehingga sering memarahi, menyindir bahkan sampai memukul karena tidak puas dengan pekerjaan istri di rumah. Tidak heranlah kalau kaum wanita sekarang ini menganggap pekerjaan sebagai ibu rumah tungga adalah pekerjaan rendahan karena memang banyak suami yang memperlakukan istrinya seperti babu.
Bayangkan istrinya disuruh kerja dari pagi sampai sore: membersihkan rumah, mengurus anak-anak dan malamnya masih mengurus suaminya lagi. Bila makanan istri tidak enak, suami bisa marah besar. Bila istri lupa menyetrika baju kerja suaminya, bisa membuahkan kata-kata sinis terhadap istrinya. Tambahan lagi, tanggung jawab pendidikan anak-anak yang secara keseluruhan diserahkan kepada istrinya. Sehingga ketika prestasi belajar anaknya menurun, lagi-lagi istrinya yang kena marah.
Hak dan Kewajiban Suami Istri
Bagi yang belum menikah atau merencanakan untuk menikah, bijaknya adalah memberikan perlakukan istri dengan baik. Kenapa begitu? Karena sebenarnya tugas isteri hanya tinggal buka mulut dan suami yang berkewajiban menyuapi makanan ke mulut isterinya. Tidak ada kewajiban isteri untuk belanja bahan mentah, memasak dan mengolah hingga menghidangkannya. Semua itu pada dasarnya kewajiban seorang suami. Seandainya suami tidak mampu melakukannya sendiri, tetap saja pada dasarnya tidak ada kewajiban bagi isteri untuk melaksanakannya. Kalau perlu suami harus menyewa pembantu atau pelayan untuk mengurus makan dan urusan dapur.
Bahkan memberi nafkah kepada anak juga bukan kewajiban isteri. Suami itulah yang punya kewajiban  memberi nafkah kepada anak-anaknya. Jangan heran kalau memberi air susu ibu juga bukanlah kewajiban isteri. Tetapi kewajiban itu pada dasarnya ada pada suami. Kalau perlu, istri bisa meminta upah kepada suaminya karena telah menyusui anaknya.
Itulah hak dan kewajiban suami istri kalau dilihat dari sudut hitam putih saja. Masalah ini kalau tidak dijelaskan dengan sempurna akan menimbulkan salah paham karena idenya sama dengan yang di bawa oleh kelompok Islam Liberal. Coba perhatikan apa yang Islam Liberal katakan:

Seorang Ibu hanya wajib melakukan hal-hal yang sifatnya kodrati seperti mengandung dan melahirkan. Sedangkan hal-hal yang bersifat diluar qodrati itu dapat dilakukan oleh seorang Bapak. Seperti mengasuh, menyusui (dapat diganti dengan botol), membimbing, merawat dan membesarkan, memberi makan dan minum dan menjaga keselamatan keluarga. ( Isu-Isu Gender dalam Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah,  hal. 42-43).

Apa yang kaum liberal itu inginkan adalah suami tinggal di rumah untuk mengasuh anak dan mengurus rumah tangga, sedangkan si istri bekerja di luar rumah. Inilah yang dinamakan emansipasi wanita kata mereka. Sebaliknya menurut saya ini dinamakan Queen Control. Apa yang dituntut dalam agama Islam tidak demikian.
Masing-masing istri dan suami semestinya mengerti tugasnya, sehingga tidak berbuat yang memberatkan pihak lain. Dalam islam ada mushalahah perjanjian dengan baik-baik, hal ini seperti yang dilakukan oleh Ali bin Abit Thalib dengan istrinya, pasangan yang berada dibawah naungan kenabian ini membuat perjanjian dimana Fatimah Zahra meminta tugas dalam rumah tangga dibagi, tugas dalam rumah adalah tugasnya sebagai istri dan diluar rumah adalah tugas bagi suami, namun pada aplikasinya Ali bin Abi Thalib tidak hanya bekerja diluar rumah, dia juga melakukan pekerjaan-pekerjaan didalam rumah.
Apa yang terjadi di Indonesia bisa jadi berasal dari ajaran Fatimah hanya saja terpotong sehingga seolah-olah itu adalah kewajiban seorang istri, padahal itu adalah bagian dari sebuah perjanjian, dan seorang suami tetap dalam batas kewajibannya, bahwa semua tugas rumah  tangga sebenarnya adalah tugasnya tapi seorang istri yang baik jelas tidak mungkin hanya membiarkan suami bekerja dirumah dan diluar rumah sedang dirinya hanya bersantai bagaikan seorang putri, dan suami bekerja bagaikan kuli.
Tetap saja kesetimbangan itu diperlukan.
Hubungan Dari Sisi Moral, Etika dan Hubungan Sosial
Selain dilihat dari sisi hitam putih, kita juga patut melihat dari sisi moral, etika dan hubungan sosial, karena ada sisi-sisi lain seperti rasa cinta, saling memiliki, saling tolong, saling merelakan hak dan saling punya keinginan untuk membahagiakan pasangannya.
Sehingga seorang isteri yang pada dasarnya tidak punya kewajiban atas semua hal itu, dengan rela dan ikhlas melayani suaminya, belanja untuk suami, masak untuk suami, menghidangkan makan di meja makan untuk suami, bahkan menyuapi makan untuk suami kalau perlu. Semua dilakukannnya semata-mata karena cinta dan sayangnya kepada suami. Dengan semua hal itu, tentunya isteri akan menerima pahala yang besar dari apa yang dikerjakannya. Karena dengan bantuannya itu, seortang suami akan sangat terbantu, dan bisa melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami, sebagai seorang ayah, sebagai salah satu anggota keluarga dan anggota masyarakat dengan baik, jelas istri yang mendukung suami untuk terus berada dalam kebaikan dan bertindak sesuai aturan akan mendapatkan pahala yang besar.
Jika hubungan suami istri adalah hubungan yang salaing mendukung dan menguntungkan maka pasangan itu akan memanen kebaikan dan pahala dari Allah SWT, akan menjadi manusia-manusia yang dicintai Allah swt. Suami mendapat pahala karena sudah melaksanakan kewajibannya, yaitu memberi hartanya untuk nafkah isterinya, mengerjakan tugas-tugas yang mampu ia lakukan dirumah. Isteri mendapat pahala karena membantu meringankan beban suami. Mendapatkan pahala karena telah menjaga suami sehingga tidak melakukan tindakan yang mendatangkan murka Allah.
Seperti Itulah hubungan cinta antara suami dan isteri, hubungan yang tidak hanya sekedar hubungan hak dan kewajiban. Tentu saja ketika seorang isteri mengerjakan hal-hal yang pada dasarnya menjadi kewajiban suami, maka wajar bila suami mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang tulus. Suami sudah semestinya tidak menutup mata atas apa yang sudah dilakukan istri untuk keluarga.
Jadi kalau istri kita memasak makanan yang tidak enak, lupa menggosok baju kerja, lupa membayar tagihan listrik, tidak tahu bagaimana mengajar matematika kepada anak kita, maka anda tidak ada hak untuk memarahinya. Kenapa begitu? Karena itu semua sebenarnya adalah tugas kita sebagai seorang suami yang dikerjakan oleh istri kita secara sukarela.
Istri Tidak Berkewajiban Menafkahi Anak-Anak Yang Ditinggalkan Oleh Suaminya
Bahkan kalau si suami meninggalpun, tanggung jawab menafkahi anak-anak bukan urusan si istri. Tapi ayah dari suami yang bertanggung jawab
Walaupun si istri kemudian bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, tapi secara hakikatnya, dia tetap tidak diwajibkan untuk membiayai anak-anaknya sendiri. Tapi bila sebagai ibu ingin memberikan nafkah pada anaknya, dia akan mendapat pahala sunnah.

Harta Istri
Harta isteri adalah harta milik isteri, baik yang dimiliki sebelum menikah atau pun setelah menikah. Harta isteri setelah menikah yang terutama adalah dari suami dalam bentuk nafaqah (nafkah), selain juga mungkin bila isteri itu bekerja atau melakukan usaha yang bersifat bisnis.
Khusus masalah nafkah, sebenarnya nafkah sendiri merupakan kewajiban suami dalam bentuk harta benda untuk diberikan kepada isteri. Segala keperluan hidup isteri mulai dari makanan, pakaian dan tempat tinggal, menjadi tanggungan suami.
Namun yang biasa terjadi, sebagian kalangan beranggapan bahwa nafkah suami kepada isteri adalah biaya kehidupan rumah tangga saja. Padahal kalau kita kembalikan kepada aturan asalnya, yang namanya nafkah itu merupakan ‘gaji’ atau honor dari seorang suami kepada isterinya. Adapun keperluan rumah tangga, baik untuk makan, pakaian, rumah, listrik, air, sampah dan semuanya, sebenarnya tidak termasuk nafkah suami kepada isteri. Karena kewajiban mengeluarkan semua biaya rumah tangga itu bukan kewajiban isteri, melainkan kewajiban suami.
Kalau suami menitipkan amanah kepada isterinya untuk membayarkan semua biaya itu, boleh-boleh saja. Tetapi tetap saja semua biaya itu belum bisa dikatakan sebagai nafkah buat isteri. Sebab yang namanya nafkah buat isteri adalah harta yang sepenuhnya menjadi milik isteri. Nafkah itu ‘bersih’ menjadi hak isteri, di luar biaya makan, pakaian, bayar sewa rumah dan semua keperluan sebuah rumah tangga.
Kalau dipikir-pikir, seorang perempuan yang kita nikahi itu, sejak kecil telah dibiayai oleh kedua orang tuanya. Pastilah orang tua itu sudah mengeluarkan biaya yang sangat besar sampai anak perawannya siap dinikahi. Lalu tiba-tiba kita datang melamar si anak perawan itu begitu saja, bahkan kadang emas kawinnya cuma seperangkat alat sholat tidak lebih dari nilai seratus ribu rupiah.
Sudah begitu, dia diwajibkan mengerjakan semua pekerjaan kasar layaknya seorang pembantu rumah tangga. Mulai dari subuh sudah bangun dan memulai semua kegiatan, urusan anak-anak kita serahkan kepada mereka semua, sampai urusan atap rumah bocor. Sudah lelah bekerja seharian,  malamnya masih harus melayani suaminya.
Jadi sebenarnya wajar dan masuk akal kalau untuk isteri ada nafkah eksklusif di mana mereka dapat hak atas ‘honor’ atau gaji dari semua jasa yang sudah mereka lakukan sehari-hari. Uang itu sepenuhnya milik isteri dan suami tidak boleh meminta dari uang itu untuk bayar listrik, sewa rumah, uang sekolah anak, atau keperluan lainnya.
Dan kalau isteri itu pandai menabung, anggaplah tiap bulan isteri menerima ‘gaji’ sebesar sejuta perak yang utuh tidak diotak-atik, maka pada usia 20 tahun perkawinan, isteri sudah punya harta yang lumayan 20 x 12 = 240 juta rupiah.
Lumayan kan?
Nah harta itu milik isteri 100%, karena itu adalah nafkah dari suami. Kalau suami meninggal dunia dan ada pembagian harta warisan, harta itu tidak boleh ikut dibagi waris. Karena harta itu bukan harta milik suami, tapi harta milik isteri sepenuhnya. Bahkan isteri malah mendapat bagian harta dari milik almarhum suaminya melalui pembagian waris.
* Makalah ini ditulis ulang  oleh Suparno dengan memberikan beberapa penambahan dan pengurangan

Begitulah isi makalah tersebut. Wahai para istri, masihkah engkau berkecil hati? Ladang pahalamu sangat luas. Jangan berkecil hati. Wahai para suami, masihkah engkau meremehkan istrimu yang sangat mulia? Wahai saudara ipar istri, wahai mertua istri, ketahuilah, bahwa istri dari saudara laki-lakimu/anak laki-lakimu tidak wajib melakukan pekerjaan rumah dan segala tetek bengeknya. Mengertikah kalian? 


Selasa, 25 November 2014

Cerpen Pertamaku Di Aplikasi Thumbstory

Apakah anda tahu aplikasi Thumbstory? Thumbstory adalah aplikasi untuk penggemar cerpen. Aplikasi dari Gramedia Majalah ini memudahkan pengguna perangkat mobile, dalam hal ini ponsel Android, untuk menulis, membaca dan berbagi cerita pendek. Dalam rangka memperingati hari perdamaian dunia di bulan September kemarin, ada event di Thumbstory yang menantang membernya untuk membuat cerpen tentang perdamaian. Baik perdamaian dunia atau pun perdamaian pribadi. Di event itu saya mengikut sertakan cerpen saya yang berjudul "Syukur Bahagia Damai" untuk beradu kompetisi dengan member yang lain. Jujur itu cerpen pertama saya yang saya publikasikan untuk umum. Meskipun tidak menjadi juara, tapi saya cukup puas dan termotivasi karena cerpen saya termasuk cerpen pilihan yang akan diterbitkan dalam ebook bersama cerpen 3 juara dan karya pilihan lainnya. Silahkan bila berkenan baca cerpen saya di bawah ini. Enjoy it ;)

SYUKUR BAHAGIA DAMAI

Hari itu ulang tahunku yang ke 24.
Di taman Bungkul, tepat pukul 00.00 WIB dengan sangat mengejutkan tiba-tiba ada sekelompok cowok lengkap dengan alat musiknya. Mereka menyanyikan lagu milik Jamrud "Selamat Ulang Tahun" di depanku. Surprise dari suamiku. Aku bahagia bercampur haru tak terkira.
Padahal kondisi taman sangat ramai. Tentu saja semua mata di taman tertuju padaku. Semua cowok-cowok yang biasa ngamen di taman Bungkul memainkan musik mereka dan bernyanyi di depanku. Sungguh street performance yang luar biasa indah. Tanpa dikomando seisi taman ikut bernyanyi dan bertepuk tangan untukku.

Ku peluk suamiku dengan hati penuh bunga. Dan lagi setelah lagu usai, aku mendapat ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang di taman yang semua tak ku kenal. Begitu banyaknya hingga hanya sedikit yang benar-benar aku ingat. Ada cewek bertatto dengan lipstik hitam dan pakaian serba hitam, cewek bercadar dengan pakaian serba hitamnya, cewek memakai hotpants dan anjing yang mengikutinya kemanapun dia pergi, sampai mbak-mbak yang jualan es lilin keliling juga bapak-bapak penjual mainan anak yang indah dengan nyala lampu-lampu kecilnya. Mereka semua memelukku dalam hangatnya persaudaraan.

Sorenya, sekitar pukul 07.00 pm suamiku mengajakku ke Brew&Co; cafe. Sudah ku bayangkan candle light dinner berdua yang romantis di sana.
Dari luar mall mataku ditutup syal sutraku. Lebai memang. Tapi siapa sih cewek yang gak suka kejutan? Biarlah lebai badai tapi aku seneng kok, batinku. Aku membayangkan ada buket mawar di meja kami.
Tiba di Brew&Co; cafe dilepaslah syal sutra dari mataku. Aku sangat terkejut! Di depanku sudah ada teman-teman kami yang menyanyikan lagu "happy birthday to you" begitu mataku terbuka. Dua orang tetangga dekatku sudah ada di depanku dengan black forest lengkap dengan lilin angka 24 yang menyala.
Setelah make a wish, ku tiup lilinku. Lalu satu persatu mereka menyalamiku. Mitra kerja suamiku, staf-staf di kantornya, teman-temanku, juga pasangan mereka. Aku dapat sebuket bunga dari little princess anak temanku di kelas memasak. Mawar yang harum. Juga setumpuk kado dari mereka.

Aku bahagia sekali saat suamiku memberi sambutan di pesta kecil kami. Dia membangga-banggakan diriku di depan semua orang. Termasuk mantannya yang sudah menikah dan sedang hamil 7 bulan yang juga istri staf suamiku. Dan satu lagi mantan terakhirnya, adik dari rekan perusahaan suamiku. Dia datang bersama kakaknya dan suami kakaknya.

Sampai di sini masih sangat indah hariku. Hingga malam harinya saat aku asyik menulis di blog dan suamiku sudah tidur, ada bbm masuk di hp suamiku.

"Sudah cukup ya masss kamu sakiti hati akkuuuhh. Mulai hari ini kalian gak usah dekat-dekat kakakkuuu!!!! Gak ada gunanya buat kalian!!!!"

Di situlah dimulai drama itu. Ku telfon si pengirim bbm. Mantan kekasih suamiku yang sudah tunangan. Ku bangunkan suamiku. Aku mengamuk sejadi-jadinya. Dia sudah berjanji tidak akan ada komunikasi dengan mantannya kecuali urusan kerjaan. Bukankah isi bbm itu menunjukkan keterlibatan suamiku dalam hubungan yang tak aku ketahui?

Pagi itu juga aku telfon taxi. Tak ku pedulikan suamiku yang menangis memeluk kakiku meminta maaf. Semua penjelasannya ku anggap sampah. Aku naik kereta paling pagi dari Surabaya ke Jogjakarta. Pulang ke rumah orang tuaku.

Sudah dua minggu aku di Jogja. Ku temukan ketenangan di dekat keluargaku yang tak kan pernah berkhianat seperti suamiku. Tapi aku merasa ada yang kurang. Aku mengutuk mengapa aku menikah dengannya. Mengapa aku meninggalkan pekerjaanku dan teman-temanku untuk dirinya. Ketenangan dan kedamaian dalam hatiku tidak utuh. Ada lubang di hatiku. Dan aku ingin mengakhiri hubungan ini.

Minggu lalu suamiku datang bersama sumber masalah si pengirim pesan. Mereka juga mengajak kakaknya. Dia  pemilik salah satu perusahaan yang memakai jasa konsultan dari perusahaan milik suamiku.
Mereka menjelaskan bahwa komunikasi lewat bbm itu cuma sepihak. Bahwa si pengirim pesan  yang juga mantan kekasih suamiku merasa sakit hati dan cemburu dengan kebahagiaan kami yang dia lihat di pesta ulang tahunku. Suamiku tak pernah berkomunikasi dengannya selain membicarakan pekerjaan. Dan hubungan mereka sudah lama berakhir.

Tapi sampai hari ini aku masih tidak punya niat untuk kembali pada suamiku. Aku tak percaya pada siapa pun.

Malam ini aku membaca postingan lama di blogku. Aku menemukan postingan yang menceritakan pertemuanku dengan suamiku sampai kami menikah. Sungguh bukan perjalanan yang mudah. Dari situ muncul perasaan rindu akan kehadiran suamiku.

Malam itu juga aku nonton film yang dibintangi Aston Kutcher. Butterfly Effect. Di akhir filmnya ada quotes dari si Aston bahwa kebahagiaan butuh pengorbanan. Dari keseluruhan film Butterfly Effect yang ku tonton itu tiba-tiba hatiku seringan kapas. Semua sakit hati dan amarah menguap seketika.

Pagi itu juga aku membeli tiket pesawat go show di bandara Adi Sutjipto. Ku kirimkan pesan singkat untuk suamiku.

"Honey, wait me. I am flight from JOG to SUB. I am arrive at 10.00."

Aku sudah tak peduli meskipun kemarin suamiku masih menjalin hubungan dengan mantannya. Yang terpenting dia memilihku untuk jadi istrinya. Itu sudah jadi bukti kalau aku lebih penting dari mantan-mantannya. Dan di sinilah kami, berpelukan erat. Di bandara Juanda terminal 1. Menangis haru akan indahnya memahami dan memaafkan. Kemudian ku temukan kedamaian yang sesunghuhnya. Lubang di hatiku telah terisi. Dengan memaafkan diri sendiri dan orang lain.

Bukankah sudah cukup pertanda dari Tuhan lewat angka-angka kami.

My husband 07 12 1980
Me 07 07 1990
First statement 07 12 2012
Engaged 07 01 2013
Wedding 07 12 2013

Kita ditakdirkan menjadi suami istri. Aku ingin hidup bahagia dengan suamiku. Aku harus memaafkan dan melupakan semua kesalahan suamiku. Aku harus menaruh kepercayaan lagi padanya. Karena kebahagiaan butuh pengorbanan.

Aku melupakan hal-hal buruk darinya. Aku hanya menghitung betapa banyaknya kebaikan suamiku yang telah dia berikan untukku. Aku bersyukur untuk itu. Selalu bersyukur. Karena letak kebahagiaan itu tergantung rasa syukurmu. Dengan syukur aku bahagia. Dan dengan kebahagiaan itu aku hidup dengan hati damai. Meskipun diusia pernikahan yang ke 9 bulan kami belum dikaruniai anak.

Surabaya, 11 September 2014.